Aku bercerai dengan riba

Hari ini, tepat satu tahun yang lalu setelah Aku mengambil keputusan terbesar didalam hidupku. Disaat orang-orang berlomba dalam mengejar karir dalam dunia perbankan, Aku memutuskan untuk meninggalkan gemerlapnya dunia itu. Alasanku meninggalkan karirku sangatlah sederhana karena keyakinan yang aku anut memusuhi dan melarang keras dunia itu atau yang paling popular disebut dengan Riba.


Bukanlah hal yang mudah dalam mengambil keputusan untuk resign dari dunia perbankan, banyak hal yang harus dikorbankan dan tidak sedikit orang yang menyayangkan keputusanku.


“Kok kamu resign, sayang lho… kerja enak, diruang ber-AC, gaji gede, masa depan terjamin lah” ujar salah seorang saudaraku.


Bahkan untuk mendapatkan izin dari Ayahku pun harus melewati diskusi yang panjang dengan penjelasan yang detail mengenai riba,


“Kerja dibank itu kan kamu di gaji oleh bank jadi bukan kamu mengambil bunga dari nasabah..” ujarnya.


“Kata Ustadz Miz, itu bukan riba lho…” tambahnya.


Mendengar perkataannya aku hanya bisa tersenyum dan menatapnya dengan lembut.


“Ayah, selama ini aku sudah cukup banyak menyusahkan ayah, mulai dari aku sekolah, kuliah bahkan sampai hari inipun aku tetap menysahkanmu” ujarku.


“Yah, aku sayang ayah. Aku ingin tetap bersama dengan ayah baik di dunia ini ataupun di akhirat nanti bersama dengan ayah di Surga-Nya. Tapi yah, ini tentang riba Yah. Bukanlah hal yang bisa di toleransi oleh agama kita, bahkan ancaman dari Allah S.W.T dan Rosullullah sangatlah tegas dan menantang berperang bagi siapapun yang dengan sadar memakan dan menjadi pelaku riba.” Tambahku.


Ayahku hanya terdiam mendengarkan penjelasan dariku, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Matanya berkaca-kaca.


“Kamu serius dengan keputusan kamu?” ia mencoba memastikan keputusanku.


“Demi Allah, Aku serius yah. Rezeki Allah telah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang meninggalkan segala sesuatu karena-Nya. Aku yakin 100000%” jawabku.


“Baiklah kalau itu keputusanmu, ayah hanya bisa mendukungmu.” Ujarnya dengan datar.


Ayahku adalah orang yang memiliki pemikiran yang terbuka dan sangat memikirkan kehidupan anak-anaknya, sehingga aku tidak ingin terlalu membebaninya, dan keputusanku adalah tanggung jawabku sendiri tidak untuk orang lain bahkan untuk istri dan anak ku, apalagi ayah dan saudara-saudaraku.


Dihari pertama tepat tanggal 1 September 2018 aku resmi resign dari salah satu bank plat merah multi nasional dengan perasaan yang bahagia. Ku mulai langkah kecil untuk membuka usaha kecil-kecilan yang memang basic dari kuliah ku dulu yakni toko komputer. Bermodalkan uang ditabunganku yang hanya tak lebih dari Rp. 11.000.000,- (sebelas juta rupiah) , kumulai usahaku.


Saat ini usaha yang telah ku rintis selama satu tahun ini sudah mulai menunjukan hasil yang cukup memuaskan, walaupun tak sebesar saat aku masih bekerja dulu. Tetapi selalu cukup dan sangat terasa keberkahannya. Pasang surutnya dunia usaha satu persatu mulai kurasakan, dari persaingan, konsumen yang suka berhutang tapi amnesia, bahkan konsumen yang rada-rada cerewet pun ku jabani. Bagiku jika itu dapat menjadi sesuatu yang halal untuk keluargaku, itu semua lebih dari cukup. Kecil-kecil lama-lama jadi bukit, prinsip yang tertanam dengan kuat di dalam hatiku. Setiap keuntungan dari hasil usaha setiap bulannya kutabung dan menjadi modal usaha kembali. 


“Hidup seperti ini ternyata menyenangkan juga” gumamku dalam hati.


Yah, meskipun baru satu tahun berlalu akan tetapi aku percaya kehidupanku yang sebenarnya telah lama dimulai dan ini menjadi titik awal setelah keputusan besar yang ku ambil, atau lebih tepatnya ini adalah kesuksesan terbesar dalam hidupku. Aku bercerai dengan Riba. 


***

Komentar